setelah melakukan sembahyang di rumah Abu, ritual dilanjutkan dengan membakar kertas. pembakaran kertas dilakukan di samping rumah Abu, sengaja dibuat tempat khusus sehingga asapnya tidak mengganggu umat lain yang sedang melakukan sembahyang.
kertas sembahyang yang dibakar sangat banyak, tapi jumlahnya untuk masing-masing orang tidak sama ada yang banyak, ada juga yang sedikit. ini tergantung dari masing-masing orang. "dengan membakar kertas, kita memberikan uang untuk leluhur di sana. mereka bisa menggunakan kertas, tersebut sebagai uang." beber Riana salah satu umat yang datang kesana.
sejak dulu ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi sembahyang Onde, bahkan ini juga dilakukan di sembahyang lainnya. kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (kimcua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin cua). menurut kebiasaan-Nya, kertas emas digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan kertas yang berwarna keperakan digunakan untuk upacara sembahyang kepada leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.
untuk itu pada sembahyang Onde kali ini, banyak yang menggunakan Gin Cua yang dipersembahkan kepada leleuhur mereka. Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bawa dengan membakar kertas emas dan perak itu telah memberikan kepingan emas dan perak kepada para dewa atau leluhur.
banyaknya umat yang membakar kertas dan sembahyang membuat nyala api yang cukup besar. Abu bekas kertas tersebut hanya diletakkan di tempat khusus agar nantinya petugas agar lebih mudah membersihkannya. ada kepercayaan yang menyatakan bahwa semakin banyak kertas sembahyang yang dibakar, maka akan semakin baik, hanya saja ini tergantung dari masing-masing umat.
setelah selesai melakukan rangkaian sembahyang Onde, beberapa umat juga melakukan sembahyang di dalam vihara. mereka mengambil guru dan sembahyang. ini hanya dilaakukan oleh beberapa umat saja." kebetulan kita sudah berada di vihara, sayang kalau tidak melakukan sembahyang," ujarnya.


